Bertiga Ngrasani Istri

Pada suatu acara Diklat di propinsi saya bergabung dalam satu kamar dengan 2 orang bertiga dengan saya dari wilayah yang berbeda. Disela-sela kegiatan istirahat Diklat kami saling ngomong basi-basi sebagai perwujudan perkenalan saya. Mulai dari alamat rumah, tempat dinas, hingga tentang keluarga masing. masing. Banyak sudah informasi dan ilmu yang kami dapatkan selama berbincang-bincang saat makan,istirahat di kamar dll.

Berkaitan dengan keluarga di atas, secara kebetulan kami bertiga memiliki istri yang semuanya bukan wanita karier dalam artian sebagai ibu rumah tangga. Selain Jodoh maupun takdir, rupa-rupanya teman-teman memiliki berbagai alasan mengapa mereka tidak memilih istri yang bekerja yang apabila dilihat dari segi ekonomi akan lebih cepat mapan karena penghasilan dobel.Berbagai alasan dilontarkan seperti yang saya tulis sebagai berikut.

Guru A menjawab saya memilih istri yang tidak bekerja agar lebih fokus pada keluarga terutama sama anak-anak. Baik itu masalah ASI maupun perhatiannya perkembangannya. Guru B menjawab karena tidak ingin kewibawaannya berkurang karena istri bisa mencari uang sendiri. Lalu kedua-duanya bertanya kepada saya apa alasannya. Saya menjawab karena saya adalah LELAKI PENCEMBURU. Seorang pria di tuntut untuk memiliki rasa cemburu kepada keluarganya, terlebih kepada istrinya.


Adapun kecemburuan seorang pria pada keluarganya termasuk kewajiban seorang laki-laki asalkan tidak CEMBURU BUTA. Dengan adanya kecemburuan ini, maka akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya.  

Sesungguhnya Rasulullah SAW. telah mensifati seorang pria yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu "Dayyuts"

Rasulullah SAW. bersabda:
“Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga, dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai pria dan dayyuts.” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad).
Untuk teman-teman semuanya, terutama para wanita atau suami yang memiliki istri bekerja janganlah salah paham. Bukan maksud penulis beranggapan bahwa setiap wanita pekerja identik dengan hal-hal negatif. Tidak dapat mengurus rumah tangga, menelantarkan anak-anaknya serta merendahkan kedudukan suaminya. 

Ini prinsip kami bertiga.
Apabila Anda mampu membagi waktu mana untuk pekerjaan dan keluarga atau bisa menjaga aurat dan sikap dalam bekerja syah-syah saja. Juga apabila Anda ridho dengan istri Anda keluar rumah dan bersama teman bukan muhrimnya ya tidak jadi masalah.

Mungkin cukup sekian celotehan dari kami, dan silahkan di saring, ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Mohon maaf atas segala kekurangan, dan juga jangan lupa untuk mengoreksi, jika ada kata yg salah mohon bantuannya untuk membenarkan.. Sekali lagi penulis tekankan, bahwa penulis tidak bermaksud menggurui siapapun, tetapi penulis hanya ingin membagikan apa yang penulis rasakan sebagai kepala keluarga yang mencari penghasilan sendiri tanpa bantuan istri.

Salam




Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment