Pekematik Guru Pinggiran



Disaat kekurangan, disitulah kekuatan kita semakin tumbuh” sebuah ungkapan motivasi dari Mario teguh yang banyak menginspirasi orang dalam menjalani kehidupannya. Maksudnya dengan kondisi serba kesulitan justru membuat semangat untuk menyusun gerak, langkah dan strategi kita agar tidak tertinggal dengan teman kita yang hidup dalam kemapanan dan tercukupi segala kebutuhannya. Begitu juga di dunia pendidikan kita, walaupun pendidik berada di lembaga marginal tapi jangan sampai semangat guru menjadi lumpuh total.


Ada banyak cara ataupun teknik penyajian yang digunakan guru dalam proses pembelajaran agar tercapainya tujuan sebuah pembelajaran. Mulai dari ceramah, diskusi, demonstrasi, studi kasus, bermain peran (role play) dan lain sebagainya. Yang sudah barang tentu masing-masing cara ataupun teknik tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Cara penyajian pembelajaran yang sering disebut dengan metode/model pembelajaran sangat penting peranannya dalam pembelajaran, karena melalui pemilihan model/metode yang tepat dapat mengarahkan guru pada kualitas pembelajaran yang efektif.

Tak terkecuali model pembelajaran PAKEMATIK yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, sekarang sudah banyak guru/lembaga yang menerapkannya, tak peduli di desa maupun kota. Model pembelajaran PAKEMATIK  menurut sebagian insan dianggap suatu hal yang mewah dan butuh perawatan yang mahal. Padahal bila kita bisa mensiasatinya hal demikian tidak akan terjadi dan setiap lembaga pasti mampu menerapkannya tinggal bagaimana kita menyikapinya, terkecuaIi bila tidak ada jaringan listrik atau permasalahan lainnya. Salah satu contoh model pembelajaran PAKEMATIK yaitu dengan merombak kelas kita dengan aktifitas pembelajaran melalui jaringan kabel maupun wirelles seperti layaknya sebuah lab komputer.


Untuk membuat jaringan sebuah lab komputer alternatif ini, peralatan yang digunakan cukup sederhana diantaranya adalah sebuah LCD Proyektor, sebuah laptop/komputer, serta port USB hub untuk menghubungkan beberapa mouse siswa  ke laptop guru. Bila Anda hanya menggunakan 2-3 mouse tanpa port USB hub model pembelajaran ini pun bisa dijalankan. Proses kerjanya begitu mudah yaitu dengan cara menggunakan software Microsoft PowerPoint dan add in multiple mouse, jadi sama seperti layaknya saat Anda melakukan presentasi. Namun yang membedakan adalah saat proses evaluasi, masing-masing siswa dapat menggunakan mouse untuk memilih suatu jawaban soal pilihan ganda  yang nampak pada LCD Proyektor secara bersamaan. Siswa juga dapat menggambar dan mewarnai bersama-sama dari slide yang diberikan guru. Selain itu aplikasi ini juga dapat menentukan mouse siapa yang dapat menjawab dengan cepat dan benar seperti dalam sesi cepat tepat dalam sebuah lomba cerdas cermat.

Dengan model pembelajaran ini,  memungkinkan para tenaga pengajar untuk membuat presentasi interaktif dan melibatkan siswa pada saat presentasi. Tidak seperti biasanya guru hanya bisa menyampaikan  presentasi dan siswa cuma melihat atau mendengar saja. Dengan demikian, siswa tidak hanya melihat materi presentasi yang ditayangkan di dalam kelas, namun mereka juga dapat berinteraksi dengan materi yang disampaikan guru menggunakan mouse yang dipegang setiap siswa.

Untuk membedakan icon/pointer mouse siswa yang begitu banyak, dalam aplikasi ini terdapat pula beberapa macam icon pointer mouse yang cukup beragam misalnya gambar buah, hewan, alat musik dll, yang tentunya amat disukai anak-anak, disamping karakternya yang lucu-lucu. Jadi sebelum proses evaluasi maupun menggambar siswa dimulai, terlebih dahulu siswa memilih icon pointer mouse sesuai keinginannya atau terkadang sudah ditentukan sendiri oleh aplikasi disaat mouse siswa sudah terdeteksi oleh laptop guru.

Dengan banyaknya keunggulan di atas bukannya aplikasi ini tak bisa lepas dari kelemahan. Untuk sementara batasan mouse yang dapat dipakai dalam model pembelajaran ini hanya dalam 25 buah, jadi bila dalam satu kelas jumlah siswanya lebih dari 25 anak, sementara bisa menggunakan metode kelompok, karena tidak membutuhkan mouse yang begitu banyak, dengan 3 - 5 mouse sudah cukup.

Jadi jika di lembaga Saudara sudah ada LCD, laptop dan juga beberapa mouse, jangan biarkan terbengkalai digudang tanpa difungsikan, gunakan model pembelajaran ini sebagai penyegar suasana pembelajaran. Anak-anak disamping cepat mudah menangkap pembelajaran juga mulai bisa belajar mengenal komputer dan menjinakkan mouse. Tanpa harus menganggarkan beberapa set peralatan komputer, model pembelajaran seperti ini bisa dijadikan alternatif pengganti sebuah lab komputer.  

Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment