Semangat Bu Guru Menggedor Jenggrong

Hari ini adalah permulaan kegiatan pembelajaran ditahun ajaran 2014/2015, bagi sebagian pendidik ini suatu awal mula semangat baru bersama anak didik setelah cukup lama menikmati liburan kenaikan kelas. Lain halnya bila kita melihat teman-teman pendidik di pinggiran terutama di desa Jenggrong, permulaan tahun ajaran baru ini merupakan awal  perjuangan kembali di medan yang cukup berat untuk menjangkau suatu lembaga di lereng pegunungan.

Mendengar kata Jenggrong tentu sebagian orang akan tertuju pada salah satu daerah di kabupaten  Lumajang yang medannya begitu berat karena wilayahnya diliputi oleh pegunungan, jurang dan jalan untuk mengakses ke sanapun agak sulit ditempuh. Apalagi bila datang musim kemarau, kebutuhan nomor 1 manusia yaitu air bersih susah didapat, bahkan sampai harus beli. Bagi masyarakat yang tidak mampu mereka biasanya memanfaatkan air curahan hujan dari atap rumah yang dikumpulkan di sebuah jedingan dan air tersebut dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.
Perjuangan Bu Guru menjinakkan jalan di Jenggrong
Dengan kondisi yang demikian dapat dipastikan “sinyal edukatif” sangatlah sulit ditembus, yang mengakibatkan kehidupan pembelajaran sangatlah jauh tertinggal dari desa lainnya. Namun yang terjadi  di lapangan justru berbalik 180 derajat,  secara kuantitas jumlah lembaganya tidak kalah dengan desa-desa lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan begitu menjamurnya lembaga formal maupun non formal di desa ini, misalnya saja lembaga SD negerinya saja ada 4, MI ada 2 lembaga, 1 lembaga SMP Satu Atap dan 1 lagi MTs, itupun belum mencakup lembaga pesantren dan madrasah diniahnya.
Bu Guru tetap bertahan menghadapi kerasnya medan
Keadaan guru Jenggrong
Melihat kondisi medan ke sekolah yang begitu kerasnya, tentu kita bisa langsung menebak hanya guru laki-laki saja yang bisa bertahan, namun hal ini tidak berlaku di Jenggrong, karena justru guru perempuanlah yang banyak mewarnai kerasnya kehidupan di sini. Tidak hanya itu, ternyata juga ada kepala sekolah perempuan yaitu ibu Sumarmi,S.Pd.SD kepala sekolah SDN Jenggrong 02 yang tinggal beberapa bulan lagi memasuki masa pensiun. 

Kita dapat melihat saat pagi buta ada beberapa rombongan guru perempuan berangkat bersama naik sepeda motor, hal ini dilakukan karena bila pergi sendirian takut terjadi perampasan/perampokan di tengah jalan, mengingat akses jalan menuju ke sekolah disamping jalannya rusak juga suasananya sangat sepi jauh dari rumah penduduk.Begitu juga ketika jam belajar usai mereka saling tunggu antar lembaga yang satu dengan yang lain untuk pulang bersama.
Bu Guru mantan pegawai Puskesmas
Ada salah satu sosok guru di Jenggrong yang perlu kita tauladani, yaitu sosok guru yang dulunya sebagai pegawai Puskesmas selama 20 tahun yang kemudian mengajukan mutasi menjadi guru sesuai ijasah keguruan yang dimiliknya (SPG). Sejak tahun 2006 beliau bertugas menjadi guru di sebuah SDN Jenggrong 02 yang jaraknya sekitar 15 km dari wilayah kecamatan. Setiap harinya beliau naik ojek (maklum tidak bisa naik sepeda) yang tentunya banyak menguras uang belanja.Walaupun berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya tetapi beliau sangat kerasan membaur dengan anak pedesaan. Disamping menjadi pengajar, beliau bertugas mengontrol kesehatan siswa-siswi di lembaganya, dari memotong kuku jari siswa hingga merawat luka mereka.

Mengapa mereka bertahan di Jenggrong?
Suatu pertanyaan yang sulit diungkap jawabannya, hanya mereka-mereka yang pernah merasakan tempaan alam Jenggrong mungkin bisa meretasnya. Dengan kondisi yang begitu berat justru mereka betah dan tetap semangat berbagi menebar ilmu di sana.  Sebut saja Sarbini salah satu guru Agama SDN Jenggrong 03 yang sudah puluhan tahun dinas dan menetap di perum sekolahan serta menghendaki sampai pensiun untuk tetap mengabdi di lembaga tersebut.
kondisi ruang kelas saat penulis mengajar di sana

Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah bertugas di sini kurang lebih 6 tahun. Kondisi yang begitu memprihatinkan dari masyarakat disitu membuka mata hati untuk terus dan tetap berbagi di sana. Walaupun kondisi jalan yang kita lewati setiap hari tak layak dilalui, namun hal ini tidak mejadikan alasan untuk sering bolos kerja namun menjadi penyemangat rasa solidaritas ingin berbagi dengan anak-anak pegunungan yang amat sangat merindukan belaian dan sentuhan edukatif para pendidik, terutama guru perempuan yang lebih lembut dan perhatian terhadap siswa. 



Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment