Emak pun Akhirnya Tertawa

Minggu-minggu ini saya lama tidak pulang ke kampung halaman, selain kesibukan aktifitas kerja juga kondisi badan memang tidak fit. Dan akhirnya tadi pagi bisa pulkam walaupun hanya saya sendiri yang datang, karena anak pertama saya Yulfrin tidak mau berangkat sebab mau mempersiapkan ulangan semester besok, jadi dengan terpaksa semuanya tidak ikut.

Tak sampai 1,5 jam saya tiba dirumah dan ternyata disana keadaan sepi, nampak pintu dan jendela tertutup, karena memang Bapak pergi bekerja ke sawah. Kubuka pintu ternyata tidak terkunci dan langsung saja saya masuk dari pintu belakang seperti biasanya. Setelah melewati dapur lalu saya menuju ke ruang tengah, terdengar suara pengajian dari seorang ustadz di TV Aswaja. Di depan TV tersebut ibu saya terbiasa berbaring menghabiskan hari-hari dengan berbaring di atas dipan.

Memang selama ini ibu saya sakit stroke yang menyebabkan tangan serta kaki kirinya lumpuh, sehingga beliau tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti biasa disaat saya datang beliau menyambut dengan senyuman tulus yang tak pernah berubah seperti pada jaman dahulu saat saya datang dari merantau maupun pulang sekolah. lamat terdengar suara samar yang mungkin hanya kami dan saudara kami yang bisa memahami lafal apa yang beliau ucapkan. 

"Mar, aku jupukno mangan",ujar ibu yang bermaksud ingin minta makan. Langsung saya bergegas ke dapur di situ ada sayur kelor kesukaan ibu dan langsung sedikit demi sedikit saya menyuapinya. Sambil saya suapi,  ibu bercerita tentang banyak hal mulai dulu sekolah hingga ikut organisasi keputrian menumpas ganasnya PKI, dan sayapun mulai membuka memori ibu zaman dulu dengan mencoba bertanya sama ibu, tentang masakan kesukaannya. Sejenak pecah keheningan saat kami mulai berbagi kenangan tentang masakan ibu jaman dulu saat kecil, baik masakan yang saya sukai maupun yang tidak saya sukai, juga masakan yang ibu.larang untuk saya makan.

ilustrasi:mbah google
Nampak wajah ibu yang tadi nampak sendu berbalur kesedihan berubah menjadi ceria diiringi tawa dan suara batuk mengingat kejadian lucu pada saat saya dan adik saya masih kecil. Namun, keceriaan itu tak berlangsung lama, terdengar suara adzan dhuhur dari masjid timur rumah. Bergegas ibu meminta saya mempersiapkan peralatan mandi dan wudhu untuk sholat dhuhur.

Keceriaan wajah ibu ternyata sampai saat ini masih terbayang dipelupuk mata walaupun saya sudah pulang ke rumah sendiri. Berbagai upaya tuk menghilangkannya, namun itu tak bisa. Hingga kini saya masih rindu dan kangen sama emak..bersenda-gurau dalam waktu lama dengannya terasa sesaat. Semoga ibu tetap diselimuti keceriaan dan kebahagiaan walaupun jauh dari putra/putri beliau. Dan Allah selalu menjaga kesehatan ibu..Amiin

Anakmu
Kang Martho
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment