Sekilas Meneropong Geliat Edukasi di Desa Jenggrong

Desa Jenggrong termasuk dalam wilayah pemerintahan kecamatan Ranuyoso. Letaknyapun berada paling barat wilayah kecamatan ini serta berbatasan langsung dengan kecamatan Gucialit,Klakah dan kabupaten Probolinggo. Mendengar kata Jenggrong tentu sebagian orang akan menerawang dalam angan-angan salah satu daerah di kabupaten  Lumajang yang medannya begitu berat karena wilayahnya diliputi oleh pegunungan, jurang dan jalan untuk mengakses ke sanapun agak sulit ditempuh. Apalagi bila datang musim kemarau, kebutuhan manusia nomor 1 yaitu air bersih susah didapat,bahkan sampai harus beli. Bagi masyarakat yang tidak mampu mereka biasanya memanfaatkan air curahan hujan dari atap rumah yang dikumpulkan di sebuah jedingan dan air tersebut dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.

Dengan kondisi yang demikian dapat dipastikan “sinyal edukatif” sangatlah sulit ditembus, yang mengakibatkan kehidupan pembelajaran sangatlah jauh tertinggal dari daerah lainnya.

Namun yang terjadi  di lapangan justru berbalik 180 derajat,  secara kuantitas jumlah lembaganya tidak kalah dengan desa-desa lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan begitu menjamurnya lembaga formal maupun non formal di desa ini, misalnya saja lembaga SD negerinya saja ada 4, MI ada 2 lembaga, 1 lembaga SMP Satu Atap dan 1 lagi MTs, itupun belum mencakup lembaga pesantren dan madrasah diniahnya. Begitu juga dengan anak didiknya tak ketinggalan dengan anak kota, dikarnakan banyak siswa yang memiliki bakat alamiah dan mendapat sentuhan guru-guru berkwualitas. Hampir tiap tahun siswa Jenggrong mewakili kecamatan Ranuyoso untuk berjuang ditingkat kabupaten melalui beberapa macam lomba.

 
Lantas bagaimana keadaan gurunya?  Melihat kondisi medan ke sekolah yang begitu sulitnya, tentu kaum ADAM lah yang bisa “bertahan”, namun hal ini tidak berlaku di Jenggrong, karena justru kaum HAWA banyak mewarnai kehidupan edukasi di sini. Bahkan juga ada kepala sekolah perempuan yaitu ibu SUMARMI,S.Pd.SD kepala sekolah SDN Jenggrong 02

Ada Apa dengan Jenggrong?

Suatu pertanyaan yang sulit diungkap jawabannya, hanya mereka-mereka yang pernah merasakan tempaan alam Jenggrong mungkin bisa meretasnya. Dengan kondisi yang begitu berat justru mereka betah dan tetap semangat berbagi menebar edukatif di sana.  Sebut saja Sarbini salah satu guru Agama SDN Jenggrong 03 yang sudah puluhan tahun dinas dan menetap di perum sekolahan serta menghendaki sampai pensiun untuk tetap mengabdi di lembaga tersebut. Yang lebih membanggakan lagi ternyata ketua PGRI Ranuyoso  saat ini, juga berdinas dan menetap di Jenggrong hingga bertahun-tahun. Jadi apa yang membuat mereka betah dan “survive” dengan kondisi daerah yang demikian, hanya hati nurani merekalah yang tahu

Jenggrong dan Teknologi

Kondisi sulit bukan halangan untuk berbuat lebih baik dan belajar, rekan-rekan guru Jenggrong memanfaatkan teknologi  informatika sebagai tempat untuk saling berbagi dengan membuat sebuah forum terbuka di jejaring sosial, disini anda bisa melihat beberapa tulisan dari rekan-rekan guru, dan tak ada yang berisi keluhan atas nasib mereka dinas di sana, namun yang mereka tulis justru kata-kata penyemangat tuk saling berbagi. Sehingga wajar bila Wahyu Ariesta Sari salah satu Tim Kreatif program Trans 7 penasaran dengan keadaan ini.

Saat tulisan dikirim ke majalah Suara PGRI ada proses negoisasi antara penulis dengan pihak Tim Kreatif program Trans 7 lewat surel yang akan memasukkan kehidupan edukatif desa Jenggrong ke dalam beberapa program acara televisi tersebut , semoga saja hal ini bisa terlaksana Amien….





Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment