Apa yang Membuat Mereka Bertahan Walau Dinas di Sekolah Terpencil

Idealnya tempat kita bekerja setidaknya harus dekat dengan lokasi kita tinggal, dan seseorang akan berusaha dengan semaksimal mungkin agar hal ini dapat dicapai. Ini dikarnakan dapat menghemat biaya serta tenaga yang harus kita keluarkan. Akan tetapi kadang-kadang kita tidak dapat mencapainya, sesuai dengan keinginan kita.
Tak terkecuali juga di dalam dunia pendidikan, biasanya bila ada angkatan guru baru selalu ditempatkan di tempat yang sangat jauh dari rumahnya, dan angkatan yang lama baru bisa turun gunung ke tempat yang lebih dekat dengan kota.
Inilah termasuk ujian bagi guru baru, bila mereka sabar menerima SK itu, dia tetap melaksanakan tugasnya sesuai SKnya sebagai komitmennya pada waktu melamar jadi PNS yaitu mau ditugaskan di mana saja di wilayah Indonesia serta menerima "keberagaman siswa" di negeri ini, namun bila guru yang mentalnya "kacangan" pasti tak tahan dengan medan seperti itu, dia akan merengek-rengek pada atasan dengan berbagai alasan agar segera dipindah dari wilayah sekolah pedesaan atau pegunungan. Lantas siapa yang mau mengajar anak-anak pedesaan bila semua ingin pindah ketempat yang dekat dengan kota. Padahal anak desa jaman sekarang tidak kalah dengan anak kota, malah-malah semangat mereka untuk belajar sangat tinggi dan cenderung tidak manja.
Akan tetapi sesuai pengalaman penulis, kita patut berbangga disaat ini penulis masih menemukan sosok "Umar Bakri" ini yang penuh semangat dan penuh kesabaran tetap mau dan menjalankan dinasnya di pelosok sampai puluhan tahun di pelosok desa diantaranya dibawah ini, (maaf sesuai permintaan mereka bahwa namanya untuk tidak dipublikasikan)
1."Sang Hacker" Perangkat pembelajaran

2. Pegawai Puskesmas yang lebih senang jadi Guru
Bu guru yang satu ini umurnya sekitar 45 tahun dulunya diangkat PNS sebagai tenaga kantor di sebuah Puskesmas dan bertugas selama 20 tahun menjadi BENDAHARA Puskesmas di kecamatan. Seiring berjalannya waktu wanita lulusan SPG ini mengajukan mutasi menjadi guru dan sejak tahun 2006 beliau bertugas menjadi guru di sebuah SD yang jaraknya sekitar 15 km dari wilayah kecamatan. Setiap harinya beliau naik ojek (maklum tidak bisa naik sepeda) yang tentunya banyak menguras uang belanja.Walaupun keadaan berbanding terbalik dengan yang dulu tetapi beliau sangat kerasan membaur dengan anak pedesaan. Dan kini beliau hidupnya jauh lebih cukup dan lebih sehat daripada saat bekerja ditempatnya dulu. Ini semua karunia dan rahasia yang di atas yang tak ternilai harganya.
3. Pak Guru yang mempunyai tugas ganda
Beliau sejak menjadi PNS selama kurang lebih 17 tahun dan belum pernah merasakan mutasi ini juga berdinas di sebuah pelosok desa, mengapa beliau dikatakan tugasnya ganda, beliau disamping mengajar di SD Inti yang pelosok dimana jarak dari rumah beliau sejauh kurang lebih 40 km masih ditambah harus mengajar di SD Fillialnya yang juga tambah pelosok. Ini jelas dituntut kesabaran yang sangat tinggi.
Perlu pembaca ketahui dari ketiga guru tersebut sampai saat ini masih
belum mendapat "SERTIFIKASI"
Sungguh ini suatu cermin bagi kita semua khususnya calon pegawai negeri yang sekarang masih mendaftar atau ujian maupun tinggal menunggu pengumuman CPNS di wilayahnya masing-masing
Jadi dari paparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa mereka betah mengajar di wilayah pelosok pedesaan tidak lain dan tidak bukan karena adanya rasa kepedulian terhadap sesama yang dapat mengalahkan segalanya, tidak adanya rasa pamrih dalam benak mereka itu yang bisa saya petik, mungkin dari pembaca punya kesimpulan tersendiri kutunggu komentarnya...
*) Artikel ini dikutsertakan dalam lomba: Pesta Blogger Writing Contest 2010, yang diadakan oleh http://writingcontest.pestablogger.com.

Artikel Terkait:

Comments
0 Comments