Pembelajaran Bermusyawarah dalam Pemilihan Ketua Kelas


Pagi itu siswa-siswi baru masuk sekolah setelah menjalani liburan kenaikan kelas selama 2 minggu, mereka datang lebih awal agar mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan keinginannya di kelas yang baru, mereka kelihatannya lebih fress menyambut suasana tahun ajaran baru dan terkadang terlihat saling bercerita satu sama lain tentang kegiatannya dalam mengisi liburan sekolah. Begitu juga di depan kelas 1 sebuah SD pinggiran kota banyak berjubel orang tua siswa terutama wali murid perempuan yang mengantarkan putra-putrinya masuk ke dalam kelas yang baru.

Tak lama kemudian bel masuk sekolah berbunyi seketika itu pula berhamburan anak-anak menuju kelasnya masing-masing. Biasanya mengawali kegiatan ajaran baru pada minggu pertama khusunya siswa-siswi SMP/SMA belum menerima pelajaran dikarnakan masih digunakan MOS, akan tetapi bila di SD pada awal masuk sekolah biasanya diadakan pemilihan ketua kelas beserta pengurus lainnya, baru kemudian keesokan harinya dimulai kegiatan belajar mengajar.

Dalam pemilihan ketua kelas berdasarkan pengalaman penulis pada waktu menjadi siswa SD, biasanya guru mengawali dengan menetapkan beberapa calon ketua dan dilanjutkan dengan pemilihan secara lisan dari calon-calon tersebut, ini saya kira tidak demokratis karena terkadang anak-anak seusia SD sifatnya masih latah, bila si A memilih(mengucapkan) si D sebagai ketua terkadang teman di dekatnya akan ikut-ikutan memilih itu juga, dan ini jelas menguntungkan salah satu calon ketua, namanya masih anak SD jelas mereka tidak akan protes dan menerima dengan tulus ikhlas dari hasil proses pesta demokrasi dalam suatu lingkup negara kecil yaitu kelas.

Alangkah bijaknya bila seorang guru mengajak siswanya untuk memilih ketua kelasnya dengan cara yang lebih demokratis, ini dikarenakan kegiatan ini merupakan proses simulasi anak pada lingkungan sekitar dan menjadi bekal anak pada kehidupan mendatang dan juga di kurikulum KTSP sudah tercantum pembelajaran tentang musyawarah serta tatacara berorganisasi khususnya dalam pelajaran Pkn

Salah satu misal cara yang lebih demokratis adalah dengan cara setiap anak menulis di kertas sobekan nama calon yang akan dipilih lalu dihitung hasil perolehan suaranya yang terbanyak itulah yang menjadi ketua kelas atau dengan sedikit inovatif guru membuat kartu suara seperti pada PEMILU lalu siswa tinggal mencontreng atau mencoblos calon yang dikehendaki

Jadi dalam setiap pembelajaran yang kita terapkan tidak hanya lewat ceramah seorang guru saja akan tetapi bisa lakukan dengan berbagai metode tergantung inovasi dan kreativitas seorang guru (mama iin)
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment